Archive for June, 2006

Finally…

Monday, June 19th, 2006

Huh..setelah sekian lama berkutat dengan setting-an GPRS & MMS di my lovely hape..akhirnya bisa juga ikutan dalam komunitas pengguna internet di hape. Thanks to MyIndosat yang punya dokumentasi setting-an GPRS and MMS..

Akhirnya semua setting-an yang dulu2 kuhapusin semua..jreeett..ganti dengan setting-an baru. Serasa jadi makhluk ter-"stupid" di lingkungan kerja, gimana ngga udahlah kerja di perusahaan telekomunikasi, di bagian engineering pula masak setting GPRS ajah gagal maning..gagal maning.."gubraksss". Mana kerjaan juga ngurusin GPRS..walah..walah keterlaluan banget deehh..Nanya sana nanya sini gak ketemu jawabannya..belum lagi kalo pada ngirimin MMS..huaaaaaa…..bakalan ngga nyangkut deh di hape-ku.

Nanya status ama OMC..ternyata GPRS-nya aktif, sayang khan kalo ngga di pake, apalagi dapet subsidi dari perusahaan.."wink..wink". Terus kalo lagi kena "tetelo" alias bengong lagi nungguin sesuatu..aku khan bisa mengoptimalkan hape-ku untuk ngilangin bosen..

Pokoknya thanks to myIndosat (intranet perusahaan neh) deh buat segala infonya, and oh..iya sekarang YM-an pun udh bisa lewat hape…cihuuuyy..thanks banget ama Ramce yang udh ngasih software IM4.25-nya..Saik lah pokokna…

-gaptekbangetyak-

Comfort Zone..

Thursday, June 8th, 2006

Comfort Zone..2 kata itu akhir2 ini sering banget aku denger. Kata-kata yang menggambarkan suatu kondisi kenyamanan pada keadaan tertentu. Kenyamanan itu membuat kita tidak mengalami perubahan atau bahkan menolak perubahan itu. Kalau kita lihat di encyclopedia ini nih maksudnya:

Comfort Zone is the term used to denote a type of mental conditioning resulting in artificially created mental boundaries, within which an individual derives a sense of security.

These boundaries tend to result in an internal state of mind, an example of which would be rigid attitudes and beliefs, which may not necessarily be true. This may or may not manifest as an external situation in the individual’s life.

An example could be a recognized need to leave an unsatisfactory job but the fear of doing so as it would result in losing the sense of security the individual derives from the job. The sense of security the individual perceives could be attributed to the mental conditioning formed initially.

A comfort zone may result when the mental concept that (a) person(s) has/have about something and actual reality of it, are not congruent with one another. A classic example to take would be of self image.

Self image may be of 3 types :

1) Self image resulting from how the individual sees himself,

2) Self image resulting from how others see the individual

3) Self image resulting from how the individual perceives others see him

These 3 types may or may not be an accurate representation of the person. All, some or none of them may be true.

Nonetheless, they may result in a mental conditioning due to the creation of mental concepts used to represent the actual person, distorting the perceptions of both the individual as well as others. It could also lead to cognitive dissonance - the state of unease or discomfort an individual experiences when actual reality doesn’t correspond to the constructed mental image. 

Dan setelah kupikir-pikir ternyata diriku mengalaminya juga..mengalami suatu keadaan yang “comfort” (not really comfort siiyyy..) sehingga membuat diriku takut untuk menerima sedikit saja perubahan atau mencoba mengambil 1 langkah perubahan dalam hidupku. Perasaan itu diperparah dengan berbagai macam bayangan ketakutan akan terjadinya sesuatu yang tidak menyenangkan di masa mendatang akibat dari perubahan tersebut.

Well, misalnya saja sama seperti yang dicontohin di atas dalam hal pekerjaan, seringkali dalam terlintas dalam pikiranku untuk berhenti kerja dan mencoba peruntungan di tempat lain. Tapi begitu sudah deal semua lagi-lagi, perasaan ragu dan takut menyerang sehingga kembali menyurutkan langkah.

Takut akan suasana tempat yang baru, takut akan kerjaan yang akan dihadapi, gamang bagaimana harus beradaptasi dengan lingkungan baru, adanya perasaan sedih karena harus meninggalkan semua yang telah terbina dengan baik, dilanda perasaan malas untuk memulai belajar yang baru dan banyak lagi ketakutan2 yang sebenarnya diciptakan oleh pikiran kita sendiri.

Sebenarnya sah-sah saja kita berada di ”Comfort Zone”, tidak ada yang melarang dan itu tidak terlarang, dengan catatan kita sadar akan keadaan itu dan mau menerima segala konsekuensinya, tp adalah sangat menganggu jika kita selalu mengeluh dengan keadaan yang ada dan tidak mau mengambil satu langkahpun keberanian untuk mengubah keadaan tersebut sesuai dengan harapan kita.

Adalah sangat manusiawi perasaan2 takut dan gamang akan perubahan menghinggapi pikiran kita, karena itu adalah naluri yang diberikan oleh sang Pencipta, bukankah perasaan takut itu juga sebagai benteng alamiah untuk menghindari musibah??

Pernah suatu ketika aku membaca suatu artikel entah di mana yang mengatakan ”jika ingin sukses, maka diperlukan keberanian untuk keluar dari comfort zone”. Setuju atau tidak atas quote tersebut terserah masing-masing individu khan ??

Yang jelas, sekarang aku merasa hidupku lebih berwarna setelah sedikit2 aku berani mengambil satu langkah keberanian untuk keluar dari comfort zone-ku. Banyak sisi positif yang terjadi, seperti contohnya aku punya lebih banyak teman, aku lebih berani mengambil keputusan untuk diriku sendiri, hidupku tidak lagi terseret oleh kerutinan yang membosankan dan banyak lagi.

Dan ternyata ketakutan2 dan kegamangan yang menghinggapi pikiran itu sama sekali tidak terjadi, yang terjadi malah kebahagiaan yang datang menghampiri.

Well, yuk nyoba keluar dari comfort zone-mu dan rasakan sensasi yang berbeda dari kehidupanmu selama ini..percayalah ternyata itu menyenangkan…

-buatichayangsukseskeluardaricomfortzonenya-