Marriage…

January 23rd, 2006 by dwidyasanti

You were born together, and together you shall be forevermore.

You shall be together when white wings of death scatter your days.

Aye, you shall be together even in the silent memory of God.

But let there be spaces in your togetherness,

And let the winds of the heavens dance between you.

Love one another but make not a bond of love:

Let it rather be a moving sea between the shores of your souls.

Fill each other’s cup but drink not from one cup.

Give one another of your bread but eat not from the same loaf.

Sing and dance together and be joyous, but let each one of you be alone,

Even as the strings of a lute are alone though they quiver with the same music

Give your hearts, but not into each other’s keeping.

For only the hand of Life can contain your hearts.

And stand together, yet not too near together:

For the pillars of the temple stand apart,

And the oak tree and the cypress grow not in each other’s shadow.

By : Kahlil Gibran

Children…

January 23rd, 2006 by dwidyasanti

Your children are not your children.
They are the sons and daughters of Life’s longing for itself.
They come through you but not from you,

And though they are with you, yet they belong not to you.
You may give them your love but not your thoughts.
For they have their own thoughts.

You may house their bodies but not their souls,
For their souls dwell in the house of tomorrow, which you cannot visit, not even in your dreams.

You may strive to be like them, but seek not to make them like you.
For life goes not backward nor tarries with yesterday.

You are the bows from which your children as living arrows are sent forth.
The archer sees the mark upon the path of the infinite, and He bends you with His might that His arrows may go swift and far.

Let your bending in the archer’s hand be for gladness;
For even as he loves the arrow that flies, so He loves also the bow that is stable.

By : Kahlil Gibran

Aku Ingin…

January 23rd, 2006 by dwidyasanti

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

By : Sapardi Joko Damono

1 Detik…

January 23rd, 2006 by dwidyasanti

Pernahkah kau merasa 1 detik begitu berarti bagi dirimu..

Dalam 1 detik, kebekuan yang telah bertahan bertahun-tahun lamanya runtuh hanya karena kejadian selama 1 detik..

Dalam 1 detik,  bisa membuatmu berpikir ulang tentang kejadian yang silam dan menghadirkan kemungkinan-kemungkinan..

Dalam 1 detik, membuyarkan semua kesedihan yang tersimpan diam di suatu tempat dalam hati..membuatmu tersenyum lega..

Dalam 1 detik, membuatmu bisa dengan jernih berpikir ulang dan berkata..bahwa "Aku begitu berharga"..

Perjalanan Hati..

September 8th, 2005 by dwidyasanti

Kebayang pun tidak untuk memutuskan pergi ke tanah suci. Bahkan pada saat mo berangkat..masih ngga percaya..bener ngga sih keputusanku ?? Kenapa..mungkin ada rasa takut, rasa malu, rasa bersalah..dan berbagai macam perasaan dan pertanyaan. Tapi tetap saja aku harus pergi, tidak bisa tidak..semua sudah diurus..Bismillah, hanya itu yang bisa kuucapkan pada saat keberangkatan.

Setelah 10 jam di udara, hari pertama mendarat di Jeddah, duuhh.. panasnya na’udzubillah..semoga kami kuat ya Allah..dijemput pake bus AC..sama sekali ngga bisa ngalahin panasnya Jeddah. Pemandangan selama perjalanan ngga lain ngga bukan hanya padang gurun, batu2an, sedikit sekali tanaman palingan juga pohon kurma yang sedang ranum2nya. 5 jam ditempuh sambil berhenti sejenak untuk sholat Dhuhur dan Ashar.

Jam 8 malam akhirnya sampai juga di Madinah al Munawarah..setengah jam kemudian sampai di hotel dan subhanAllaah masjid Nabawi yang terletak di depan hotel begitu indah cemerlang di waktu malam, so big..Setelah koper masuk di kamar, langsung kami menuju masjid untuk menunaikan sholat Isya jama’ Maghrib..sayang terlewatkan sholat berjema’ah.

Shubuh belum menjelang, aku dan ibuku sudah menunggu di luar masjid sayang ayah tidak ikut, kakinya kram, tidak heran mengingat usianya dan perjalanan yang  kurang lebih selama 15 jam. Akupun mulai merasakan nikmatnya ibadah di sana. Begitu kontras dengan udara di luar, udara di dalam masjid begitu dingin akibat AC yang dipancarkan lewat lubang2 tiang pancang.

Paginya kami melakukan ziarah di Baqi yaitu tanah perkuburan sebagian sahabat Nabi kalau tidak salah Umar bin Khattab dan Abubakar Siddiq dan orang2 muslim yang meninggal pada saat menunaikan Haji dan Umrah. Selepas memberi salam pada mereka, ziarahlah kami ke Makam Rasulullaah saw dan berdoa di Raudah, untuk tempat wanita dan laki2 dipisah.

Di sanalah terjadi peristiwa yang tidak bisa kulupakan seumur hidupku. Ingat tidak lagu Rindu Rasul..yang begini nih.. "Rindu kami padamu ya Rasul..rindu tiada terperi"..Duuhh..melihat makamnya saja, belum sampai di Raudah karena terlalu banyak orang dan memberi salam pada Rasul, sudah membuat dadaku sesak serasa tak bisa bernafas..seddiiiiiih sekali rasanya. Baru kuucapkan salam pada Rasulullaah, air mata sudah tak terbendung..ternyata kami benar2 rindu padamu ya Muhammad..Tiba2 Raudah sudah di depan mata..dan lagi2 airmataku tak berhenti menetes..doaku bener2 terkalahkan dengan airmata yang tak juga mau berhenti..bahkan sampai kami dipersilahkan keluar untuk memberikan kesempatan yang lain tidak juga berhenti airmataku..ya Allah ampuni hambaMu ini, hanya itu yang berkali2 bisa terucap..

Hari ke 3 Kamis, wisata Madinah di mulai..Mesjid Quba tempat pertama kali Muhammad datangi pada saat hijrah ke Madinah..Thala’al badru alayna..min tsaniiyati wadaa.., kebun kurma yang subhanAllah banyak banget..kurma ar rijaal segera masuk kantong..enak banget. Terus ke tempat terjadinya perang Badar. Mesjid 2 kiblat Qiblatain. Tak terasa melontar real terasa cepat..hmm..pantes orang Indonesia di juluki tukang belanja..rupanya ini toh buktinya..

Hari ke 4 Jum’at, jam 9 niat mau ke Raudah dan berdoa lagi di sana apalagi kemaren belum sempat sholat sunnah di sana..tapi emang belum rezeki ternyata Raudah jam segitu udah di tutup berhubung mau sholat Jum’at. Madinah semakin hari semakin ramai..sehabis sholat Jum’at berangkatlah kami menuju Mekkah setelah sebelumnya mandi besar dan berpakaian ihram, singgah sebentar di Bir Ali untuk melaksanakan sholat sunat ihram dan melafadzkan niat umrah. Sungguh Maha Kuasa Allah yang membolakbalikkan hati manusia, mendengarkan talbiyah di lafadzkan muttawir, dadaku kembali sesak tak bisa bernafas..dan airmataku lagi2 membanjir tak terbendung..duuuh Allah beginikah rasanya..Engkau Maha Pemurah yang Allah, telah Engkau ijinkan aku beserta ayah ibuku untuk datang ke rumahMu..

Sampai di Mekkah al Mukaromah sekitar jam 11 malam, setelah menempuh 5 jam perjalanan, sampai di hotel, menyempurnakan wudhu kembali, berangkatlah kami menuju Masjidil HaramDsc01366_2 ..duuh ternyata tidak sebesar yang kebayang..letaknya di tengah bangunan2 tinggi, sayang sehingga hampir tenggelam di balik bayang2 gedung2 tinggi. Masuk masjidil haram, tunaikan sholat maghrib dan isya kemudian ritual umrah pun di mulai..duuuuh lagi2 kejadian, dadaku kembali sesak tak bisa bernafas..melihat Ka’bahDsc01330_1  yang di sekitarnya terlihat ratusan manusia berthawaf mengelilinginya, rasanya airmata tak habis-habis sampai 7 putaran bahkan sampai dalam sholat sunnah thawaf, airmata masih tak terbendung, ampuni hambaMu yang zhalim ini ya Allah, ampuni aku dengan segala keterbatasanku..Maha Indah Engkau dengan segala kekuasaanMu..Sai pun dimulai..7 kali antara Shafa dan Marwah..lumayan buat kaki sih..kemudian ritual terakhir Tahallul, lengkaplah sudah..gugurlah kewajiban berihram..

Hari ke 5, kami lalui dengan memperbanyak ibadah di Haram..tak banyak yang bisa di ceritakan. Shubuh hari ke 6, aku dan ibuku melakukan thawaf sunnah, menjelang sholah shubuh sehingga sering di usir2 oleh asykar masjid.

Hari ke 6 siang sehabis sholat Ashar rencananya umrah ke 2 akan di laksanakan. Berangkatlah kami dari hotel menuju Tan’im (Ji’ranah), sebelum itu wisata Mekkah pun dimulai mulai dari Jabal Tsur, Padang Arafah masyaAllah luas sekali, singgah di Jabal Rahmah naik ke atas memanjatkan do’a (tahu dong do’a apa..), kemudian lanjut ke Mina100_2976 , melihat Jumrah Wustha, Muzdalifah, Masjid Jin, Jabal Nur melihat dari kejauhan dan akhirnya berhenti di Tan’im untuk kembali sholat sunnah ihram dan niat berumrah..sampai di hotel ternyata baru dhuhur..masyaAllah panasnya kebayang harus thawaf di bawah terik matahari..ya Allah semoga Engkau terima segala ibadah bagaimanapun keadaannya..Umrah ke dua pun selesai dengan segala letih menggayut di badan, karena tidak kuat sholat Ashar pun terpaksa di hotel..Allah Maha Mengetahui setiap kemampuan manusia..

Hari ke 7 pun dilalui dengan memperbanyak ibadah di Haram. Hmm..besoknya kami harus meninggalkan Haram..betapa berat rasanya.

Hari ke 8, hari terakhir di Haram, sebelum meninggalkannya harus melaksanakan Thawaf Wada’, thawaf perpisahan. Sehabis sholat dhuhur, ditemani panas teriknya matahari 7 putaran thawaf pun terselesaikan, kami harus pulang. Tak lepas2nya mataku memandang Ka’bah. Ya Allah, ijinkan aku datang kembali mengunjungi rumah-Mu kelak bersama dengan suamiku nantinya.

Sekitar jam 4 sore, Jeddah sudah menunggu untuk di kunjungi. Ada Mesjid Terapung 100_2992 (orang Indonesia yang ngasih nama) dimana kami sempat sholat ashar, ada Masjid yang di depannya merupakan tempat Qishash di Jeddah (Islam memang agama preventif, lebih baik menghilangkan 1 orang yang bersalah demi menyelamatkan banyak nyawa daripada menyelamatkan 1 nyawa orang bersalah dan mengorbankan keselamatan banyak orang..), air mancur yang kononnya merupakan air mancur tertinggi ke dua di dunia100_2997_1. Malamnya sehabis makan malam, shopping di Balad menjadi tujuan..ternyata banyak sekali orang indonesia yang pada saat itu telah selesai melakukan umrah. Indonesia kaya bukan..?? Tetap saja kaki tidak mau kompromi, akhirnya yang ada cuman duduk-duduk memperhatikan lalu lalang manusia berbelanja.

Hari kepulangan, sehabis sarapan dan saling bermaaf2an, aku, Fitri, Rahmat dgn diantar Ustadz Heri ngacir ke Jam Joon, aku ingin mencari AlQuran yang tidak sempat kubeli di tanah suci sedangkan Fitri dan Rahmat mencari oleh2 untuk ayah mereka plus kardus kosong..Indonesia banget khan.

Jam 4 sore100_3013_1 , Bandara King Abdul Aziz sudah menunggu dan siap mengantar kepulangan kami ke tanah air..huh sungguh berat rasanya..meninggalkan mutawwir2 yang begitu luar biasa baiknya..semoga Allah memberikan cinta dan kasih sayangNya selalu untuk mereka. Dan besoknya setelah 10 jam kembali di udara, Cengkareng dengan padamnya lampu menyambut kami..Alhamdulillaah telah kami tunaikan umrah kami ya Allah, semoga itu menjadi salah satu pemberat timbangan amal ibadah kami nantinya..

P.S :

Thanks to Ersa dan suaminya yang udh memberikan gambar Masjidil Haram dan Ka’bah yang ngambilnya secara sembunyi2 takut di rampas asykar..

Banyak keajaiban yang terjadi (kalo boleh aku bilang begitu..), seperti misalnya teman2 satu rombongan Umrah ada yang merupakan teman satu pengajiannya Eyang Putriku dari ibuku di Sukabumi, kemudian ada lagi yang merupakan sahabat Om-ku dari Gresik, dan yang terakhir aku bertemu dengan ibu dan kakak temenku yang kupikir ngga mungkin banget ketemu wong dia perginya kapan dan dengan sebegitu banyaknya orang…ternyata Allah punya kuasa..

NER

August 4th, 2005 by dwidyasanti

NER,

Tahu ngga NER, bukan nener lho..that’s the abbreviation of Network Effectiveness Ratio..

It is the quote from ITU-T E.425, NER is designed to express the ability of networks to deliver calls to the far-end terminal. NER expresses the relationship between the number of seizures and the sum of the number of seizures resulting in either an answer message, or a user busy, or a ring no answer, or in the case of ISDN a terminal rejection/unavailability.

Di telekomunikasi NER itu harusnya menjadi sesuatu yang penting karena dari indikator itu kita bisa ngerti efektifitas jaringan yang ada, terutama untuk bagian core.

Masih bingung juga..well ngga heran..udh 3 bulan lebih ini kita ngutak-ngutik NER untuk ngedapet formula yang tepat..masih juga lieur..apalagi harus mendefinisikan dari metode trunkgroup. Kelihatannya sih gampang tinggal mengklasifikasikan kalo ngga answer message, user busy, ring no answer ato network failure. Tapi kalo dilihat dari masing2 definisi cause value yang ada di ITU-T, lain kepala lain penafsiran.

Jadilah kerjaan nyariin segala macem cause value yang ada, mana vendor ada macem-macem lagi..belum lagi satu vendor bisa 50-an macem counter. Dan itu harus di klasifikasikan lagi mengacu ama yang di ITU-T..huuuuhhh..thanks God vendor yang akan melakukannya bukan kita..

Nah kemaren dapet undangan meeting untuk ngebahas formula NER ini..again??? Semoga aja di meeting kali ada kata sepakat tentang general formulanya sehingga kita bisa bergerak ke arah yang lain, nyari counter2 yang sesuai per vendor..kalo ngga juga..ngga tahu lagi deh..

Well, itulah telekomunikasi..teknologi yang semakin hari semakin ngawur..cepet banget perkembangannya. Padahal NER itu harusnya di define di awal2 implementasi, kenyataannya baru sekarang di utak-utik..mana otak udh mulai ngga kompromi lagi..abis di kepalaku udh bercampur baur antara BSS, NSS, HLR, GPRS and yang pasti nambah lagi deh..belum lagi 3G yang bentaran lagi bakal muncul di Indo..huuuhhh..tobat banget…

-actually i really enjoy my job-

Tears..

June 22nd, 2005 by dwidyasanti

Menangis itu perlu..

Bahkan jika itu hanya sekedar meneteskan air mata..untuk sekedar melepaskan sesak yang menggumpal di dada.

Banyak orang yang begitu mudah meneteskan airmata. Sedikit-sedikit airmata bisa mengalir tanpa ada perlawanan untuk menahannya. Terutama kaumku yang kata orang lebih banyak mengandalkan perasaan daripada rasio. Cengeng, itu cap yang ku beri pada orang yang seringkali menjadikan airmatanya sebagai senjata (maafkan aku..)

Tapi tidak sedikit pula orang yang kesulitan untuk mengeluarkan airmatanya, meskipun pada saat terberat sekalipun. Sombong, kalau itu cap yang ku beri untuk orang-orang seperti itu , termasuk diriku. Karena dulu, bagiku kupikir menangis adalah pekerjaan yang sia-sia, hanya orang yang lemah yang sering melakukannya.

Ada seseorang yang mengatakan begini "jika kau merasa ingin menangis, dan airmatamu ingin berhamburan keluar, maka berdirilah terbalik maka airmatamu akan tertahan dan tidak akan jatuh berderai". Hmm..betapa berat usaha hanya untuk menahan tangis..

Sekarang aku mulai bisa mengerti kenapa menangis itu perlu. Bahkan menangis menjadi hal yang indah pada saat seorang ayah menangis sewaktu menyaksikan langkah pertama putrinya yang baru bisa belajar berjalan. Menangis membuat perasaan menjadi lebih peka, membuat beban yang menghimpit di dada lepas satu persatu, membuat dunia jadi terasa lebih lega walaupun hanya sesaat. Menangis juga bisa membuat kita sadar ternyata banyak sekali keindahan yang terlewatkan oleh mata hati kita.

Jadi menangislah jika kamu ingin menangis, meski itu harus lari dari kerumunan orang dan bersembunyi di toilet agar semua orang tidak menatapmu dengan aneh. Atau menangislah pada saat kau berada diam di meja dan memandang kosong ke arah komputermu. Atau di kamarmu pada saat kamu merasa begitu sedihnya sampai tak tahu harus berbuat apa. Atau juga pada saat kau memeluk sahabatmu saat kau mendengar kabar bahagia darinya. Menangislah bila kerinduan pada orangtuamu begitu menghentak-hentak, menangislah bahkan pada saat bahagia sekalipun. Juga menangislah setiap saat kau teringat begitu banyak kezaliman yang telah kau perbuat. Dan bila kau sangat ingin menangis, menangislah, kapan saja itu. Laki-laki sekalipun tidak diharamkan menangis, karena menangis bukanlah cengeng, bukanlah lemah.

Aku bahagia sekarang karena aku bisa menangis, karena dengan begitu aku bisa lebih memahami kesedihan orang lain, dengan begitu dadaku tidak begitu sesak lagi, dan dengan begitu hidup tidak terasa lebih berat untuk dijalani.

-waktu itu aku menangis-

Tears
By :

Pete Heron

My frozen heart is melting through my eyes,
My hidden feelings tear away from past disguise,
If ‘ere you wanted proof that I could care,
See then these tears that slowly cloud my stare,
Those tears with which you thought I could not part,
You have brought stumbling from a sundered heart.

Tear Drops
By : Rachel Clark

Slick and smooth you run from my eyes,
Like a fountain over flowing.
You slide, you glide, so graciously,
But you I re hidden from the world, covered so no one sees
So, why do we hide our tears?
They are a symbol of who we are,
They show are hopes dreams and fears.
They show love, passion, sadness, and grief.
When we hide our tear drops we only hide ourselves.
So when you feel the need to cry,
Let the tears flow from your eyes.
Because the beauty of our mind, our tears, our beliefs
Are that they are important everyday,
In everyway.
To the world your and angel, the most beautiful of things,
So let passion guide you, and let love be your wings. Why would you want to hide?
Who you are deep inside.
You are the most beautiful of all,
So let your tear drops fall.

Lucky Me..

June 20th, 2005 by dwidyasanti

Lucky Me,..seharusnya itu yang selalu ada dikepalaku setelah apa yang telah kulalui selama ini..

Betapa beruntungnya diriku, betapa banyak kasih sayang-Nya yang tercurah untukku, betapa besar karunia-Nya padaku, betapa indah hidupku selama ini, tetapi masih saja pikiran itu berseliweran di otakku..masih saja ada yang kurang kurasakan dalam hidupku. Kurang berani mengambil tantangan, kurang berani mengambil resiko, even yang terkecil sekalipun, kurang berani survive atas apa tantangan yang ditawarkan.

Banyak kata seandainya yang masih terperangkap dalam otakku. Seandainya aku tidak plin-plan, seandainya aku tidak peragu, seandainya aku lebih berani, seandainya aku tidak pemalas..dan seandainya aku lebih ulet..apalagi kalau teringat segala hal atau yang belum aku (berani) lakukan.

Aku ingin sekali bebas, pergi kemanapun aku mau. Melanglang buana berkeliling dari suatu tempat ke tempat yang lain, tanpa ada yang menganggu. Aku ingin sekolah lagi ke tempat dimana aku harus berusaha lebih keras untuk hidup sendirian dan tempat dimana aku bisa merasakan kerinduan yang lebih pada orangtuaku, saudara-saudaraku dan kampung halamanku. Aku ingin bisa memberi lebih kemampuan dari sekedar yang aku bisa. Aku ingin bisa lebih berarti dalam hidup..

Ibuku pernah bertanya padaku, begini tanyanya "Apa yang masih ingin kau cari Dina?". Iya..apa sebenarnya yang aku cari, di atas berjuta-juta keinginanku, sudah ada bertriliunan nikmat yang telah aku terima dari-Nya..seharusnya aku lebih bersyukur, seharusnya aku lebih menghargai atas apa yang telah diberi, seharusnya aku lebih bangga atas apa yang telah kucapai selama ini dan seharusnya aku bisa lebih ikhlas mengatakan….LUCKY ME…

Green Day
Time Of Your Life

     Another turning point, a fork stuck in the road
     Time grabs you by the wrist, directs you where to go
     So make the best of this test and don’t ask why
     It’s not a question but a lesson learned in time

     It’s something unpredictable
     but in the end it’s right
     I hope you had the time of your life

     So take the photographs and still frames in your mind
     Hang it on a shelf of good health and good time
     Tattoos of memories and dead skin on trial
     For what it’s worth, it was worth all the while

     It’s something unpredictable
     but in the end it’s right
     I hope you had the time of your life

-