Kebayang pun tidak untuk memutuskan pergi ke tanah suci. Bahkan pada saat mo berangkat..masih ngga percaya..bener ngga sih keputusanku ?? Kenapa..mungkin ada rasa takut, rasa malu, rasa bersalah..dan berbagai macam perasaan dan pertanyaan. Tapi tetap saja aku harus pergi, tidak bisa tidak..semua sudah diurus..Bismillah, hanya itu yang bisa kuucapkan pada saat keberangkatan.
Setelah 10 jam di udara, hari pertama mendarat di Jeddah, duuhh.. panasnya na’udzubillah..semoga kami kuat ya Allah..dijemput pake bus AC..sama sekali ngga bisa ngalahin panasnya Jeddah. Pemandangan selama perjalanan ngga lain ngga bukan hanya padang gurun, batu2an, sedikit sekali tanaman palingan juga pohon kurma yang sedang ranum2nya. 5 jam ditempuh sambil berhenti sejenak untuk sholat Dhuhur dan Ashar.
Jam 8 malam akhirnya sampai juga di Madinah al Munawarah..setengah jam kemudian sampai di hotel dan subhanAllaah masjid Nabawi yang terletak di depan hotel begitu indah cemerlang di waktu malam, so big..Setelah koper masuk di kamar, langsung kami menuju masjid untuk menunaikan sholat Isya jama’ Maghrib..sayang terlewatkan sholat berjema’ah.
Shubuh belum menjelang, aku dan ibuku sudah menunggu di luar masjid sayang ayah tidak ikut, kakinya kram, tidak heran mengingat usianya dan perjalanan yang kurang lebih selama 15 jam. Akupun mulai merasakan nikmatnya ibadah di sana. Begitu kontras dengan udara di luar, udara di dalam masjid begitu dingin akibat AC yang dipancarkan lewat lubang2 tiang pancang.
Paginya kami melakukan ziarah di Baqi yaitu tanah perkuburan sebagian sahabat Nabi kalau tidak salah Umar bin Khattab dan Abubakar Siddiq dan orang2 muslim yang meninggal pada saat menunaikan Haji dan Umrah. Selepas memberi salam pada mereka, ziarahlah kami ke Makam Rasulullaah saw dan berdoa di Raudah, untuk tempat wanita dan laki2 dipisah.
Di sanalah terjadi peristiwa yang tidak bisa kulupakan seumur hidupku. Ingat tidak lagu Rindu Rasul..yang begini nih.. "Rindu kami padamu ya Rasul..rindu tiada terperi"..Duuhh..melihat makamnya saja, belum sampai di Raudah karena terlalu banyak orang dan memberi salam pada Rasul, sudah membuat dadaku sesak serasa tak bisa bernafas..seddiiiiiih sekali rasanya. Baru kuucapkan salam pada Rasulullaah, air mata sudah tak terbendung..ternyata kami benar2 rindu padamu ya Muhammad..Tiba2 Raudah sudah di depan mata..dan lagi2 airmataku tak berhenti menetes..doaku bener2 terkalahkan dengan airmata yang tak juga mau berhenti..bahkan sampai kami dipersilahkan keluar untuk memberikan kesempatan yang lain tidak juga berhenti airmataku..ya Allah ampuni hambaMu ini, hanya itu yang berkali2 bisa terucap..
Hari ke 3 Kamis, wisata Madinah di mulai..Mesjid Quba tempat pertama kali Muhammad datangi pada saat hijrah ke Madinah..Thala’al badru alayna..min tsaniiyati wadaa.., kebun kurma yang subhanAllah banyak banget..kurma ar rijaal segera masuk kantong..enak banget. Terus ke tempat terjadinya perang Badar. Mesjid 2 kiblat Qiblatain. Tak terasa melontar real terasa cepat..hmm..pantes orang Indonesia di juluki tukang belanja..rupanya ini toh buktinya..
Hari ke 4 Jum’at, jam 9 niat mau ke Raudah dan berdoa lagi di sana apalagi kemaren belum sempat sholat sunnah di sana..tapi emang belum rezeki ternyata Raudah jam segitu udah di tutup berhubung mau sholat Jum’at. Madinah semakin hari semakin ramai..sehabis sholat Jum’at berangkatlah kami menuju Mekkah setelah sebelumnya mandi besar dan berpakaian ihram, singgah sebentar di Bir Ali untuk melaksanakan sholat sunat ihram dan melafadzkan niat umrah. Sungguh Maha Kuasa Allah yang membolakbalikkan hati manusia, mendengarkan talbiyah di lafadzkan muttawir, dadaku kembali sesak tak bisa bernafas..dan airmataku lagi2 membanjir tak terbendung..duuuh Allah beginikah rasanya..Engkau Maha Pemurah yang Allah, telah Engkau ijinkan aku beserta ayah ibuku untuk datang ke rumahMu..
Sampai di Mekkah al Mukaromah sekitar jam 11 malam, setelah menempuh 5 jam perjalanan, sampai di hotel, menyempurnakan wudhu kembali, berangkatlah kami menuju Masjidil Haram
..duuh ternyata tidak sebesar yang kebayang..letaknya di tengah bangunan2 tinggi, sayang sehingga hampir tenggelam di balik bayang2 gedung2 tinggi. Masuk masjidil haram, tunaikan sholat maghrib dan isya kemudian ritual umrah pun di mulai..duuuuh lagi2 kejadian, dadaku kembali sesak tak bisa bernafas..melihat Ka’bah
yang di sekitarnya terlihat ratusan manusia berthawaf mengelilinginya, rasanya airmata tak habis-habis sampai 7 putaran bahkan sampai dalam sholat sunnah thawaf, airmata masih tak terbendung, ampuni hambaMu yang zhalim ini ya Allah, ampuni aku dengan segala keterbatasanku..Maha Indah Engkau dengan segala kekuasaanMu..Sai pun dimulai..7 kali antara Shafa dan Marwah..lumayan buat kaki sih..kemudian ritual terakhir Tahallul, lengkaplah sudah..gugurlah kewajiban berihram..
Hari ke 5, kami lalui dengan memperbanyak ibadah di Haram..tak banyak yang bisa di ceritakan. Shubuh hari ke 6, aku dan ibuku melakukan thawaf sunnah, menjelang sholah shubuh sehingga sering di usir2 oleh asykar masjid.
Hari ke 6 siang sehabis sholat Ashar rencananya umrah ke 2 akan di laksanakan. Berangkatlah kami dari hotel menuju Tan’im (Ji’ranah), sebelum itu wisata Mekkah pun dimulai mulai dari Jabal Tsur, Padang Arafah masyaAllah luas sekali, singgah di Jabal Rahmah naik ke atas memanjatkan do’a (tahu dong do’a apa..), kemudian lanjut ke Mina
, melihat Jumrah Wustha, Muzdalifah, Masjid Jin, Jabal Nur melihat dari kejauhan dan akhirnya berhenti di Tan’im untuk kembali sholat sunnah ihram dan niat berumrah..sampai di hotel ternyata baru dhuhur..masyaAllah panasnya kebayang harus thawaf di bawah terik matahari..ya Allah semoga Engkau terima segala ibadah bagaimanapun keadaannya..Umrah ke dua pun selesai dengan segala letih menggayut di badan, karena tidak kuat sholat Ashar pun terpaksa di hotel..Allah Maha Mengetahui setiap kemampuan manusia..
Hari ke 7 pun dilalui dengan memperbanyak ibadah di Haram. Hmm..besoknya kami harus meninggalkan Haram..betapa berat rasanya.
Hari ke 8, hari terakhir di Haram, sebelum meninggalkannya harus melaksanakan Thawaf Wada’, thawaf perpisahan. Sehabis sholat dhuhur, ditemani panas teriknya matahari 7 putaran thawaf pun terselesaikan, kami harus pulang. Tak lepas2nya mataku memandang Ka’bah. Ya Allah, ijinkan aku datang kembali mengunjungi rumah-Mu kelak bersama dengan suamiku nantinya.
Sekitar jam 4 sore, Jeddah sudah menunggu untuk di kunjungi. Ada Mesjid Terapung
(orang Indonesia yang ngasih nama) dimana kami sempat sholat ashar, ada Masjid yang di depannya merupakan tempat Qishash di Jeddah (Islam memang agama preventif, lebih baik menghilangkan 1 orang yang bersalah demi menyelamatkan banyak nyawa daripada menyelamatkan 1 nyawa orang bersalah dan mengorbankan keselamatan banyak orang..), air mancur yang kononnya merupakan air mancur tertinggi ke dua di dunia
. Malamnya sehabis makan malam, shopping di Balad menjadi tujuan..ternyata banyak sekali orang indonesia yang pada saat itu telah selesai melakukan umrah. Indonesia kaya bukan..?? Tetap saja kaki tidak mau kompromi, akhirnya yang ada cuman duduk-duduk memperhatikan lalu lalang manusia berbelanja.
Hari kepulangan, sehabis sarapan dan saling bermaaf2an, aku, Fitri, Rahmat dgn diantar Ustadz Heri ngacir ke Jam Joon, aku ingin mencari AlQuran yang tidak sempat kubeli di tanah suci sedangkan Fitri dan Rahmat mencari oleh2 untuk ayah mereka plus kardus kosong..Indonesia banget khan.
Jam 4 sore
, Bandara King Abdul Aziz sudah menunggu dan siap mengantar kepulangan kami ke tanah air..huh sungguh berat rasanya..meninggalkan mutawwir2 yang begitu luar biasa baiknya..semoga Allah memberikan cinta dan kasih sayangNya selalu untuk mereka. Dan besoknya setelah 10 jam kembali di udara, Cengkareng dengan padamnya lampu menyambut kami..Alhamdulillaah telah kami tunaikan umrah kami ya Allah, semoga itu menjadi salah satu pemberat timbangan amal ibadah kami nantinya..
P.S :
Thanks to Ersa dan suaminya yang udh memberikan gambar Masjidil Haram dan Ka’bah yang ngambilnya secara sembunyi2 takut di rampas asykar..
Banyak keajaiban yang terjadi (kalo boleh aku bilang begitu..), seperti misalnya teman2 satu rombongan Umrah ada yang merupakan teman satu pengajiannya Eyang Putriku dari ibuku di Sukabumi, kemudian ada lagi yang merupakan sahabat Om-ku dari Gresik, dan yang terakhir aku bertemu dengan ibu dan kakak temenku yang kupikir ngga mungkin banget ketemu wong dia perginya kapan dan dengan sebegitu banyaknya orang…ternyata Allah punya kuasa..